Duo sutradara peraih penghargaan Academy Award, Coen brothers, baru-refresh mengungkapkan bahwa selera sinema mereka tidak melulu terpaku pada film-film berkualitas tinggi. Berdasarkan wawancara terbaru, Joel dan Ethan Coen mengakui bahwa mereka tumbuh besar dengan menyaksikan berbagai film yang secara objektif dianggap buruk oleh para kritikus, namun justru menjadi inspirasi terbesar dalam perjalanan karier mereka.
// RELATED STORIES
Menurut penuturan Joel Coen, film komedi seks tahun 1965 berjudul "Boeing Boeing" yang dibintangi oleh Tony Curtis dan Jack Lemmon adalah salah satu karya paling berpengaruh. "Sebuah film seperti Boeing Boeing sangat besar pengaruhnya bagi kami," ujar Joel. Dari pantauan redaksi, film tersebut diakui memiliki kualitas yang buruk secara metrik sinematik, tetapi Coen brothers justru menyebutnya sebagai film formatif yang sanggup mereka tonton selamanya.
Selain "Boeing Boeing", mereka juga menggemari karya-karya lain dari era 1960-an seperti "That Touch of Mink", "A Global Affair", film-film Bob Hope, Jerry Lewis, hingga karya yang dibintangi Doris Day seperti "Pillow Talk". Dari pengamatan tim redaksi, selera unik ini cukup mengejutkan mengingat film-film epik legendaris Hollywood seperti "Quo Vadis" dan "Ben-Hur" justru gagal menarik perhatian kedua sutradara nyentrik asal Minnesota tersebut.
Berdasarkan penjelasan Ethan Coen, deretan film komedi romantis dan pop masa lalu itu memiliki karakteristik visual yang sangat unik. "Film-film tersebut memiliki estetika kaku yang sangat aneh yang tidak lagi diminati oleh siapa pun saat ini," kata Ethan sembari menambahkan film "The Chapman Report" ke dalam daftar tontonan favorit masa kecil mereka.
Meskipun Coen brothers sebelumnya sempat secara blak-blakan menyebut era tersebut sebagai salah satu periode paling buruk dalam sejarah mainstream Hollywood, pengamatan menunjukkan bahwa film-film surreal ini tetap memiliki tempat khusus di hati mereka. Keterikatan emosional terhadap film "buruk" ini membuktikan bahwa inspirasi seni dapat lahir dari mana saja, bahkan dari karya yang dianggap gagal oleh industri.