Perselisihan hebat antara Roger Waters dan Pink Floyd sempat menjadi salah satu drama perpisahan paling disorot dalam sejarah musik rock and roll. Setelah memutuskan untuk memisahkan diri, Waters sempat bersikeras agar tidak ada anggota lain yang menggunakan nama besar band tersebut. Namun, ego tersebut justru berbalik menjadi bumerang ketika ia menyadari bahwa perjuangan karier solonya tidak semudah yang dibayangkan.
// RELATED STORIES
Berdasarkan catatan sejarahnya, Roger Waters mengira bahwa fondasi utama band berada di tangannya karena ia merupakan penulis lirik dari banyak lagu hit mereka. Namun, setelah kalah dalam persidangan mengenai hak perebutan nama band, ia harus merelakan mantan rekan-rekan bandnya tetap melaju. Sementara David Gilmour berjuang mempertahankan eksistensi grup lewat album "A Momentary Lapse of Reason", Waters harus menghadapi realitas pahit saat menggelar tur solonya.
Dari pantauan redaksi, tur promosi untuk album "Radio KAOS" pada tahun 1987 menjadi mimpi buruk bagi sang musisi karena minimnya jumlah penonton yang hadir. Pink Floyd selama ini dikenal sebagai band yang "tanpa wajah" secara personal, sehingga ketika salah satu anggotanya memutuskan bergerak sendiri, masyarakat tidak secara otomatis berbondong-bondong datang menyaksikan pertunjukan solonya.
Menurut penuturan Roger Waters, kegagalan tur tersebut hampir mematikan seluruh hasratnya untuk kembali menggelar konser di masa itu. "Saya menggelar tur Video Chaos pada tahun "87. Pada titik itu saya memutuskan berhenti karena kurangnya permintaan dari pasar. Orang-orang tidak datang menonton," ungkap Waters mengenang masa sulitnya.
Ia juga menambahkan bahwa bersaing dengan nama besar band lamanya di jalur tur terasa sangat melelahkan. "Saya bisa saja tampil di New York, Los Angeles, atau London, tetapi selain kota-kota itu, semuanya benar-benar sebuah perjuangan berat. Karena personel lainnya melakukan tur dengan nama Pink Floyd, situasinya menjadi sangat sulit bagi saya dan saya tidak ingin melanjutkannya lagi. Saya merasa seperti membenturkan kepala ke dinding bata, sangat tidak nyaman, jadi saya memilih berhenti," jelasnya.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa Waters baru bisa menemukan kembali jati diri musikalitas solonya saat merilis "Amused to Death" pada era 1990-an. Meskipun ia sempat merasa perih melihat mantan rekan-rekan bandnya sukses memenuhi arena besar, Roger Waters menyadari bahwa jalan sunyi yang ia pilih adalah konsekuensi dari keputusan besarnya sendiri untuk meninggalkan band yang telah ia besarkan.