Aridec Terfrain Aridec Terfrain
/home / travel / Dilema Hotel di DIY: Okupansi Naik...
TRAVEL

Dilema Hotel di DIY: Okupansi Naik tapi Biaya Operasional Pusingkan Pengusaha

by Tim Redaksi Aridec Terfrain ⎯ 2 min read ⎯ 27 Juni 2026
Suasana kamar hotel penuh saat musim libur sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta

Suasana kamar hotel penuh saat musim libur sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta

Momen libur sekolah 2026 membawa angin segar sekaligus tantangan berat bagi industri perhotelan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berdasarkan pantauan redaksi, tingkat hunian atau okupansi hotel di wilayah tersebut mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Namun, lonjakan jumlah tamu ini ternyata belum bisa membuat para pengusaha hotel bernapas lega akibat membengkaknya biaya operasional.

Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo, reservasi hotel pada periode 17 hingga 25 Juni 2026 rata-rata mencapai 70 persen. Angka ini mencakup hotel bintang maupun nonbintang yang menjadi anggota PHRI di DIY, dengan konsentrasi kunjungan tertinggi masih didominasi oleh wilayah tengah Kota Jogja dan Kabupaten Sleman. Kendati okupansi naik sekitar 20 persen dibandingkan hari biasa, Deddy menegaskan bahwa kondisi ini tidak serta-merta menunjukkan industri sedang baik-baik saja.

Berdasarkan pengamatan tim redaksi, dilema besar dihadapi pengusaha karena kenaikan volume tamu dibarengi dengan lonjakan biaya operasional yang berkisar antara 15 hingga 25 persen. "70 persen itu belum berarti kondisi baik-baik saja. Peningkatan okupansi juga diiringi kenaikan biaya operasional. Bahan baku naik, servis AC naik, sekarang semuanya naik," ujar Deddy saat memberikan keterangan kepada media.

Kondisi ini diperparah oleh penurunan daya beli masyarakat yang membuat manajemen hotel enggan menaikkan tarif kamar. Pengusaha khawatir jika harga dinaikkan, minat wisatawan akan merosot tajam. Akibatnya, banyak hotel memilih untuk mempertahankan harga lama demi menjaga volume tamu. "Ada peningkatan biaya operasional, tapi kami belum berani menaikkan harga. Daripada tidak ada tamu, akhirnya ini hanya cukup untuk bertahan. Dari segi okupansi naik, tapi dari segi revenue kami turun," tambahnya.

Selain harga bahan baku, gangguan pasokan listrik yang terjadi beberapa waktu lalu turut memicu pembengkakan biaya. Dari pantauan redaksi, fluktuasi tegangan listrik memaksa hotel mengeluarkan dana ekstra untuk membeli bahan bakar genset seperti solar dan Pertadex. Menurut laporan yang diterima PHRI DIY, terdapat sekitar empat hingga lima hotel yang mengalami kerusakan fasilitas elektronik mulai dari water heater, televisi, hingga komputer akibat ketidakstabilan arus listrik tersebut.

Menyikapi situasi yang menekan margin keuntungan ini, sejumlah manajemen hotel mulai menerapkan langkah efisiensi energi secara ketat, seperti mematikan pencahayaan di area yang tidak digunakan. Walau demikian, Deddy memastikan bahwa efisiensi tersebut dilakukan tanpa mengorbankan kualitas pelayanan. Pihak hotel berkomitmen untuk tetap menjaga standar hospitality yang tinggi agar tidak merusak citra pariwisata Yogyakarta di mata para wisatawan.

// TOPICS
#hotel_diy #libur_sekolah_2026 #phri_yogyakarta #okupansi_hotel #bisnis_perhotelan #pariwisata_jogja
Pemantau Berita & Tren 24/7

Redaksi Aridec Terfrain terdiri dari tim jurnalis dan editor yang berdedikasi menyajikan berita akurat dan terkini. Dengan latar belakang di berbagai bidang—dari seni, travel, hingga berita umum—kami bekerja tanpa lelah untuk menyaring informasi dan menyajikannya dalam format yang mudah dipahami. Kami percaya bahwa informasi berkualitas adalah hak setiap orang, dan itu adalah misi kami untuk menyediakannya.