Band beraliran punk asal Amerika Serikat, Devo, dikenal lewat penampilannya yang eksentrik dengan topi kubah energi khas mereka. Menurut pendiri Devo, Gerald Casale, visi distopia yang mereka usung bukanlah sebuah sinisme belaka melainkan kebenaran yang nyata. Konsep "de-evolution" atau de-evolusi yang mereka percayai sejak era 1970-an kini terbukti menjadi realitas sosial di tengah modernisasi dunia Barat.
// RELATED STORIES
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, awal mula terbentuknya visi kelam Devo tidak luput dari latar belakang masa kecil para personilnya di Northeast Ohio. Mark Mothersbaugh, Gerald Casale, beserta saudara-saudara mereka tumbuh besar di Akron, Ohio, sebuah kota industri yang dipenuhi oleh pabrik-pabrik ban raksasa seperti Goodyear dan Firestone. Atmosfer kota yang berpolusi dan berbau karet tersebut secara tidak langsung membentuk sudut pandang estetika seni mereka yang distopian.
Dari pantauan redaksi, inspirasi terbesar Devo juga datang dari acara televisi lokal Cleveland bertajuk "Shock Theatre" yang dipandu oleh karakter Ghoulardi. Melalui film-film fiksi ilmiah beranggaran rendah yang ditayangkan acara tersebut, Mark Mothersbaugh mengaku merasakan adanya kedekatan emosional dengan karakter-karakter mutan dan sub-manusia yang tertindas. Pengalaman visual inilah yang kemudian melahirkan konsep visual android pekerja pabrik yang diadopsi Devo di atas panggung.
Meskipun de-evolusi awalnya diciptakan oleh Gerald Casale dan Bob Lewis sebagai proyek seni satir politik yang sarat komedi, sebuah tragedi berdarah mengubah segalanya. Setelah peristiwa penembakan empat mahasiswa oleh National Guard dalam protes anti-perang di Kent State University pada tahun 1970, Casale dan Mothersbaugh yang menyaksikan langsung kejadian tersebut memutuskan untuk menganggap serius konsep Devo dan menuangkannya ke dalam proyek musik formal.
Menurut penuturan Mark Mothersbaugh pada tahun 1981, manusia kemungkinan besar mengalami de-evolusi dari garis keturunan kera gila yang kanibalistik. Melalui pesan yang tersembunyi di balik musik pop komersial dan kostum unik, Devo berusaha memperingatkan sebagian kecil masyarakat yang masih rasional mengenai kemunduran peradaban manusia yang terus terjadi secara struktural.