Aridec Terfrain Aridec Terfrain
/home / travel / Pantai Matahari Cikembang: Surga...
TRAVEL

Pantai Matahari Cikembang: Surga Selancar Baru di Sukabumi

by Bagas Prakarsa ⎯ 3 min read ⎯ 22 Juni 2026
Wisatawan asing menikmati ombak di Pantai Matahari Cikembang Sukabumi

Wisatawan asing menikmati ombak di Pantai Matahari Cikembang Sukabumi

Di balik pesona keindahan Pantai Matahari Cikembang saat ini, tersimpan sebuah narasi masa lalu yang cukup mendebarkan. Berdasarkan pantauan redaksi, kawasan pesisir cantik yang kini menjadi surga tersembunyi bagi para pencinta olahraga selancar ini dulunya merupakan sebuah area yang sangat dijauhi oleh warga lokal karena dikenal menjadi sarang ular.

Kini, atmosfer di destinasi yang terletak di Desa Pasir Baru, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi tersebut telah berubah total. Menurut pengamatan tim redaksi, pantai ini menyuguhkan panorama alam yang memanjakan mata dengan barisan pohon kelapa dan pepohonan rindang yang membentuk kanopi alami, sekaligus melindungi para pelancong dari sengatan terik matahari.

Suasana di area tepi pantai terasa sangat hidup dan akrab dengan deretan kursi malas yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Dari hasil observasi tim redaksi, para wisatawan mancanegara dan domestik tampak membaur dengan santai sembari menikmati buah kelapa muda langsung dari batoknya serta menikmati kehangatan kopi di tengah gemuruh ombak yang syahdu.

Menurut penuturan Kepala Desa Pasir Baru, Jaro Hidayah, perubahan drastis ini memerlukan proses yang panjang karena kondisi awal lahan yang sangat memprihatinkan. "Kalau sekarang indah, nyaman, banyak pepohonan. Tapi dulu, tempat wisata ini garung. Banyak ilalang, tidak terawat. Lahannya jadi sarang ular, kelabang, kalajengking semua ada di sini," ujar Jaro Hidayah menceritakan masa lalu tempat tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sudut terpencil dari Pantai Cikembang ini awalnya tidak memiliki papan penanda dan akses jalannya sangat sempit. Melihat potensi besar pada garis pantainya yang landai, Jaro Hidayah kemudian menggerakkan para pemuda desa setempat untuk bekerja bakti membersihkan dan merapikan lahan serta meminta izin kepada pemilik tanah di sekitarnya.

Kerja keras tersebut akhirnya berbuah manis setelah pihak desa berinisiatif menandai lokasi asri ini di Google Maps dan mengunggah dokumentasi keindahan pantai ke internet. Langkah digitalisasi sederhana ini terbukti sukses memikat perhatian dunia internasional dan mendatangkan banyak pelancong dari berbagai belahan bumi.

Menurut penjelasan Jaro Hidayah, destinasi ini sekarang sudah sangat dikenal luas oleh wisatawan luar negeri. "Kebanyakan pengunjung luar negeri itu dari Asia dan Eropa. Kalau Asia, dominasi dari Jepang dan Korea. Kalau Eropa, dari Austria, Jerman, Amerika, dan Australia juga ada," tuturnya mengenai profil para pelancong yang datang.

Berdasarkan pengamatan di lokasi, daya pikat utama dari Pantai Matahari terletak pada karakter ombaknya yang sangat ideal. Tampak pemandangan seru para peselancar lokal dan turis asing meliuk-liuk menaklukkan gulungan ombak setinggi pinggang. Menurut Jaro Hidayah, spot surfing di pantai ini menjadi unggulan karena karakter ombaknya bersahabat dan cocok untuk pemula.

Tepat di bibir pantai, terdapat sebuah warung sederhana bernama Teras Arabella yang dikelola oleh istri Kepala Desa. Meskipun hanya menyediakan menu bersahaja seperti mi rebus dan kelapa segar, kesederhanaan tempat inilah yang justru paling dicari para turis asing untuk bersantai meresapi semilir angin laut.

Dalam upaya memajukan sektor pariwisata di desa ini, pihak pengelola juga mendapatkan dukungan penuh dari komunitas pemandu wisata atau guide asal Cimaja. Komunitas dari desa tetangga yang sudah lebih dulu populer tersebut kerap membawa tamu-tamu mancanegara mereka ke Pantai Matahari untuk berlatih selancar air.

// TOPICS
#pantai_matahari_cikembang #wisata_sukabumi #surfing_indonesia #pantai_cisolok #destinasi_wisata #pesona_indonesia
Penjelajah & Penulis Perjalanan

Bagas Prakarsa adalah seorang travel writer yang telah mengunjungi lebih dari 40 negara. Dari puncak Himalaya hingga pantai tersembunyi di Pasifik, ia menulis bukan hanya tentang destinasi, tapi tentang pengalaman dan pertemuan dengan manusia-manusia menarik di perjalanan. Dengan kamera dan buku catatan sebagai sahabat setia, Bagas membagikan cerita perjalanan yang menginspirasi pembaca untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman.