Sutradara legendaris Hollywood, Mel Brooks, baru-baru ini mengungkapkan keluh kesah terbesarnya selama menjalani karier di dunia perfilman. Pria yang dikenal lewat karya satire dan parodi ikonik ini mengaku tidak menyukai proses kolaborasi yang kompetitif saat menyutradarai sebuah film.
// RELATED STORIES
Berdasarkan laporan dari Far Out Magazine, Mel Brooks yang memulai kariernya sejak tahun 1940-an sebagai penulis acara televisi, merasa bahwa menyatukan berbagai kepala dalam sebuah produksi layar lebar merupakan tantangan yang sangat berat. Menurut pengakuannya, proses pembuatan film klasik "Blazing Saddles" bahkan diwarnai perdebatan sengit antar-kreator demi memasukkan ide masing-masing.
Melalui wawancara dengan Tablet Magazine, Brooks menceritakan dinamika tersebut. "Ada lima orang dari kami yang saling berteriak keras agar ide kami dimasukkan ke dalam film. Bukan hanya saya yang paling keras berteriak, tetapi untungnya saya juga memiliki hak sebagai sutradara untuk memutuskan apa yang masuk atau keluar," ujarnya.
Dari pantauan redaksi, ketidaksukaan Brooks terhadap proses kolaborasi berakar dari keharusannya berkompromi dengan keahlian teknis orang lain. Dalam wawancara terpisah dengan The Stackers Reader, ia menegaskan ketidaknyamanannya bersaing dengan kecemerlangan teknis kru film lainnya.
Brooks menjelaskan, "Sebenarnya, meskipun mengerikan untuk dikatakan, saya sangat tidak menyukai proses kolaborasi secara umum, karena setiap orang yang Anda bawa memiliki idenya sendiri tentang bagaimana berbagai hal harus dilakukan. Juru kamera ingin mengambil gambar dengan cara tertentu karena dia menyukai pencahayaan seperti itu, dan saya tidak ingin bersaing dengan kecemerlangan teknisnya."
Lebih lanjut, tim redaksi mengamati bahwa Brooks juga merasa kesulitan ketika harus menyerahkan naskah yang ditulisnya kepada para aktor. Baginya, kompromi terbesar dalam penyutradaraan adalah ketika visi pribadinya harus bersinggungan dengan interpretasi para pemeran dan penata busana di lokasi syuting.
Menurut pengamatan tim redaksi, keengganan berkuasa dan mengatur orang lain inilah yang membuat Brooks jarang menyutradarai film sejak era 1970-an. Karya penyutradaraan terakhirnya tercatat pada tahun 1995 melalui film "Dracula: Dead and Loving It", di mana ia kini lebih memilih fokus menulis naskah dan berakting.