Dekade 1960-an merupakan masa penuh gejolak di Amerika Serikat, ditandai dengan kemunculan teknologi baru, perubahan gaya hidup, hingga gerakan kontra-kebudayaan yang masif. Dalam situasi yang terus berubah cepat ini, banyak seniman berusaha mengabadikan jiwa zaman tersebut. Berdasarkan analisis sejarah musik, tidak ada karya yang mampu menangkap esensi pencarian jati diri era tersebut se-puitis lagu "America" yang ditulis oleh Paul Simon pada tahun 1968.
// RELATED STORIES
Lagu ini lahir dari refleksi perjalanan nyata Paul Simon bersama kekasihnya, Kathy Chitty, pada tahun 1964. Saat itu, ia baru berusia 22 tahun dan kembali dari London atas panggilan produser Tom Wilson untuk menyelesaikan album debut Simon & Garfunkel, "Wednesday Morning, 3 AM". Perjalanan darat selama lima hari tersebut menjadi fondasi dari sebuah karya yang merekam kecemasan satu generasi.
Dari pantauan redaksi, kekuatan utama "America" terletak pada strukturnya yang tidak biasa untuk sebuah lagu pop. Menurut penjelasan Gerry Beckley dari band America, lagu ini sepenuhnya berbentuk prosa tanpa ada satu pun baris kalimat yang berima. Pendengar dibuat terhanyut ke dalam narasi cerita yang kuat sehingga mengabaikan struktur konvensional musik pada umumnya.
Lirik demi lirik dalam lagu ini menggambarkan kontradiksi kehidupan Amerika kala itu. Dimulai dengan idealisme ala Jack Kerouac tentang kebebasan di jalan raya tanpa kepemilikan benda, hingga sindiran halus terhadap budaya konsumerisme lewat pembelian pai Mrs Wagner dan rokok. Ketakutan serta paranoia era Perang Dingin juga diselipkan melalui dialog fiktif tentang pria berjas gabardin yang dicurigai sebagai mata-mata.
Klimaks emosional lagu ini tercermin lewat baris lirik "Kathy, I'm lost", yang menggambarkan kehampaan spiritual di tengah perjalanan spiritual bangsa. Menurut pengamatan para kritikus, kegelisahan personal Paul Simon dalam lagu tersebut bertransformasi menjadi kegelisahan kolektif ketika ia melihat ribuan mobil di New Jersey Turnpike, yang diyakininya sama-sama sedang mencari arti dari "Amerika".
Melalui harmoni vokal yang presisi bersama Art Garfunkel, Paul Simon berhasil menyuarakan isi hati para mahasiswa dan pemuda yang sedang melangkah mencari masa depan di tengah ketidakpastian dunia. Berdasarkan pernyataan Paul Simon saat membawakan lagu ini beberapa waktu lalu, ia menyampaikan pesan yang tetap relevan melintasi zaman, "Strange times, huh? Don't give up."