Pemadaman listrik bergilir yang dilakukan oleh PLN di wilayah Kabupaten Kuningan kembali menuai keluhan dari masyarakat dan pelaku usaha. Berdasarkan informasi resmi, pemadaman yang melanda puluhan wilayah pada Sabtu (20/6) tersebut disebabkan oleh adanya kendala teknis operasional pada pembangkit yang memicu penurunan kapasitas suplai listrik. Kondisi ini memaksa PLN untuk melakukan manajemen beban secara terbatas di sejumlah lokasi sejak sore hingga malam hari.
// RELATED STORIES
Dampak dari terhentinya aliran listrik ini tidak hanya dirasakan oleh warga pemukiman, melainkan juga berimbas langsung pada sektor pariwisata. Dari pantauan redaksi di Sagof Coffee yang berlokasi di objek wisata Talaga Surian, Kecamatan Cigugur, Kuningan, kondisi gelap gulita menjadi pemandangan yang harus dihadapi oleh para pengunjung. Akibatnya, para wisatawan tidak dapat menikmati pemandangan gemerlap lampu kota Kuningan dari ketinggian kaki Gunung Ciremai.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi di lokasi, para pengunjung terpaksa memanfaatkan lampu kilat dari ponsel pintar mereka sebagai alat penerangan darurat saat menyantap hidangan. Selain masalah pencahayaan, operasional kedai kopi juga terganggu karena mesin espresso dan peralatan barista lainnya tidak dapat berfungsi tanpa daya listrik, sehingga pihak pengelola tidak bisa menyajikan menu kopi olahan modern.
Salah seorang wisatawan asal Bekasi, Ali (24), mengungkapkan rasa kecewanya atas kejadian tersebut. Menurut Ali, ia sengaja datang jauh-jauh setelah mendapatkan rekomendasi dari temannya mengenai keindahan pemandangan di lokasi tersebut. "Sangat disayangkan, jauh-jauh dari Bekasi, kebetulan direkomendasi teman ke tempat sini. View-nya bagus. Eh, malah mati lampu. Cuma ada beberapa keluhan seperti kayak tidak bisa memesan kopi karena mungkin mati listrik kali. Terus ditambah mati lampunya ketika sore ke malam," ujarnya.
Keluhan senada juga disampaikan oleh pengunjung lainnya, Hafidz, yang merasa aktivitasnya sangat terganggu mengingat kontur tanah di area wisata tersebut tidak rata. Menurut Hafidz, ketiadaan lampu utama memaksa pengunjung untuk ekstra hati-hati dan sepenuhnya bergantung pada cahaya ponsel untuk berjalan. Ia juga terpaksa memesan menu makanan dan minuman alternatif yang tidak memerlukan proses pengolahan dengan mesin listrik.
Sementara itu, pihak pengelola Sagof Coffee, Agus, menjelaskan bahwa pemadaman ini sangat merugikan pihak pelaku usaha di kawasan destinasi wisata. Agus berharap agar PLN dapat menjaga stabilitas pasokan listrik ke depannya agar kejadian serupa tidak terulang kembali. "Ya pasti terganggu lah, otomatis kan operasional dia terganggu, kayak kopi jadi enggak bisa bikin. Harapannya sih jangan sering-sering lah. Kalau bisa jangan terjadi lah. Padahal kan nggak ada saingan PLN tuh," pungkas Agus.