Sektor pariwisata di kawasan Timur Tengah sedang menghadapi tantangan berat akibat situasi geopolitik yang memanas. Berdasarkan pantauan redaksi, harga kamar hotel di Uni Emirat Arab, khususnya di kota Dubai dan Abu Dhabi, dilaporkan terjun bebas akibat meluasnya konflik di kawasan tersebut. Penurunan tarif yang sangat signifikan ini sengaja dilakukan oleh para pengelola akomodasi demi mempertahankan angka okupansi mereka.
// RELATED STORIES
Menurut analisis kantor berita RIA Novosti terhadap tarif menginap untuk dua tamu pada awal April 2026, penurunan harga ini mencapai angka yang drastis. Berdasarkan data tersebut, rata-rata harga hotel berbintang empat mengalami kemerosotan hingga 75 persen. Sementara itu, untuk kelas hotel berbintang lima, penurunan harga tercatat berada di angka lebih dari 66 persen.
Dari pengamatan tim redaksi di Abu Dhabi, hotel bintang empat seperti Mercure kini hanya ditawarkan dengan tarif sekitar 54 dollar AS per malam. Angka ini turun tajam jika dibandingkan dengan harga normal pada periode Januari hingga Februari yang berkisar antara 200 hingga 250 dollar AS. Pihak pengelola hotel bintang lima di kota tersebut juga terpaksa mengambil kebijakan serupa guna menyiasati sepinya pengunjung.
Berdasarkan informasi tarif terbaru, kamar mewah di Rixos Marina kini dijual mulai dari 225 dollar AS per malam, sedangkan Ritz Carlton dipatok mulai 231 dollar AS. Di sisi lain, hotel Shangri-La menawarkan tarif di kisaran 201 dollar AS, dan Radisson memangkas harganya hingga menyentuh angka sekitar 125 dollar AS per malam.
Berdasarkan pantauan redaksi, kondisi serupa juga melanda kota metropolitan Dubai. Kamar hotel berbintang empat di Dubai kini ditawarkan pada kisaran 50 hingga 60 dollar AS saja per malam. Untuk akomodasi premium, hotel bintang lima seperti Dusit Thani dibanderol mulai 95 dollar AS, Hilton Jumeirah seharga 155 dollar AS, serta Pullman Jumeirah yang dapat dipesan dengan biaya sekitar 90 dollar AS.
Menurut para analisis ekonomi, kemerosotan harga properti dan akomodasi ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Situasi keamanan yang tidak menentu tersebut secara langsung berdampak pada menurunnya minat wisatawan internasional, sehingga pelaku industri perhotelan terpaksa memangkas tarif secara ekstrem demi menarik minat pelancong di tengah ketidakpastian geopolitik.